Jumat, 12 Desember 2014

Pembangunan Indonesia Masa Kini

BY Rochmat Aldy Purnomo IN 2 comments



PEMBANGUNAN INDONESIA MASA KINI
Dihubungkan dengan Kontribusi Pemikir Ekonomi Pembangunan Modern
Semakin baik... atau semakin......????

Rochmat Aldy Purnomo

Pembangunan pada dasarnya tidak dapat dilepaskan hubungannya dengan keadaan negara yang sedang membangun itu sendiri. Banyak persoalan yang dihadapi oleh negara Indonesia dalam usaha meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.
Pembangunan ekonomi di Indonesia merupakan hal yang “berusia lanjut”, dapat dikatakan bahwa “pembangunan” merupakan kunci yang menentukan hidup matinya bangsa Indonesia. Di Indonesia, masalah penduduk tergolong sangat serius disamping merupakan negara yang relatif belum sejahtera secara ekonomi jika dibandingkan dengan negara tetangga. Kepadatan penduduk juga sangat tinggi dan perkembangan penduduk yang tergolong sangat cepat.
Oleh karena itu, mengadakan pembangunan ekonomi di negara Indonesia merupakan suatu keperluan yang sangat mendesak, yaitu untuk mengatasi masalah kemiskinan, pengangguran, meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengisi kemerdekaan dalam bidang politik...
dengan pembangunan ekonomi. Pada saat ini, banyak para pemikir-pemikir ekonomi yang memberikan kontribusi pemikirannya dalam berbagai aspek mengenai pembangunan ekonomi untuk diterapkan di Indonesia.  
Negara Indonesia sepertinya semakin menyadari bahwa tidak ada jalan pintas untuk melakukan pembangunan ekonomi yang terlantar dan terbelakang sebagai akibat penjajah belanda dan jepang yang telah berlangsung sekian lama. Sedikit demi sedikit namun pasti, Indonesia mulai menyadari bahwa kemerdekaan politik saja tanpa dibarengi dengan kemerdekaan ekonomi tidak akan banyak artinya. Ketidakstabilan politik akan menghambat kemajuan ekonomi, namun sebaliknya ketergantungan di bidang ekonomi dapat menimbulkan kerawanan politik di dalam negeri.
Dari sisi pembentukan modal, Nurkse (1963) menyebut adanya sebuah lingkaran setan (vicious circle) yang menyebabkan Indonesia tidak mampu menggulirkan ekonomi di atas kemampuannya sendiri. Dari mata rantai buruknya tingkat pendapatan, dilanjutkan oleh ketidakmampuan menyisihkan tabungan dan rendahnya kapasitas pembentukan modal serta efisiensi yang rendah. Urutan terakhir mata rantai tersebut adalah rendahnya pendapatan perkapita penduduk yang dengan sendirinya dilanjutkan oleh rendahnya tabungan.
Michael P. Todaro hampir selalu mengidentikkan Dunia Ketiga (termasuk Indonesia) dengan produktivitas sumber daya manusia yang rendah, kemiskinan, pertumbuhan penduduk yang tinggi, tidak demokratis, feodal, dan cenderung militeristik, pasar yang tidak sempurna, atau standar hidup yang rendah (Todaro, 1998). Begitulah lingkaran tanpa putus yang menantang ahli-ahli ekonomi pembangunan dalam merumuskan exit strategy, sebelum mendorong mereka mengejar negara-negara yang lebih maju.
Karena itulah, dari pengetahuan akan teori tersebut. Kita bisa melihat dalam sejarah pembangunan Indonesia dimana pada tahun 1960-an, pemerintah Indonesia mulai pro terhadap investasi asing dengan maksud agar terdapat pembentukan modal yang lebih baik dan lebih banyak di Indonesia. Yang nantinya diharapkan tingkat pendapatan per kapita meningkat dan masyarakat memiliki kemampuan untuk menabung yang lebih baik dan diharapkan dapat memutuskan rantai kemiskinan.
Dalam khasanah ilmu ekonomi pembangunan, ada hal-hal menjadi sangat populer dan berkembang setelah Perang Dunia 2, Roy F. Harrod dan Evsey Domar contohnya. Dua ekonom yang membangun teori masing-masing ini, jelas tidak bisa dilupakan dalam sejarah. Gagasan dalam teori Harrod-Domar berfokus pada satu pernyataan penting bahwa kunci pertumbuhan ekonomi ada pada investasi. Dengan demikian, terdapat ekspektasi terhadap kenaikan pendapatan masyarakat dan kapasitas produktif yang selalu berkait dengan pertanyaan mengenai seberapa besar laju kenaikan investasi.
Meski tidak lepas dari kritik di sana sini, Harrod-Domar dianggap membongkar tradisi Keynesian yang mengabaikan variabel-variabel jangka panjang, kendati masih bekerja dengan kerangka dasar berpikir yang diletakkan Keynes, khususnya mengenai asumsi full employment. Dan lebih penting dari itu adalah bahwa model Harrod-Domar telah memberi inspirasi kepada ilmuwan-ilmuwan lain untuk membentuk perkembangan teori pertumbuhan modern yang semuanya menempatkan faktor modal dan investasi pada posisi vital dalam peningkatan pendapatan, kapasitas produksi dan employment.
Kita bisa melihat relevansinya terhadap pembangunan Indonesia, pada kala dipimpin oleh Soeharto. Indonesia menjalankan proyek Repelita, dan secara jangka pendek. Indonesia mengalami kenaikan pendapatan GDP dan terdapat full employment secara signifikan. Dan sampai saat ini pun, konsep kenaikan investasi masih dilakukan oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan tetap memperhatikan sektor-sektor yang tidak hanya ekonomi, namun juga sektor sosial dan sektor politik.
Model Harrod-Domar, begitu juga teori-teori yang merupakan hasil kolaborasi model itu, dibangun berdasar pengalaman negara maju. Harrod sendiri, menyadari benar hal itu sehingga merasa perlu untuk membuat modifikasi agar modelnya bisa beroperasional di negara terbelakang. Ia, melihat problem tabungan yang rendah di negara berkembang seperti Indonesia bisa diselesaikan dengan ekspansi kredit bank dan penanaman modal otomatis dari keuntungan di pasar modal.
Kita bisa melihat secara sekilas, bahwa di negara berkembang, kebutuhan investasi biasanya memang lebih tinggi daripada kemampuan masyarakat membentuk tabungan. Karenanya, campur tangan pemerintah menjadi mutlak diperlukan bila alternatif yang dipilih adalah ekspansi kredit perbankan dengan tingkat suku bunga bersubsidi. Mungkin sedikit menyimpang dengan model Harrod-Domar yang tidak memasukan variabel campur tangan pemerintah.
Namun kita bisa melihat kondisi di Indonesia saat ini, bahwa pada tahun 2000-an. Indonesia sudah masuk kedalam era rezim Reformasi dimana masyarakat yang memegang kendali atas negara. Tetapi yang mengatur dalam investasi dan penanaman modal tetap pemerintah. Termasuk Fiskal-Moneter nya. Karena itu, ketika Indonesia ingin lebih sejahtera dengan investasi yang seimbang. Maka kebijakan pemerintah dalam mengatur investasi di Indonesia juga harus diperbaiki terus sesuai dengan kondisi masyarakat saat ini. Terlebih, pada 2014 besok. Akan diadakan pemilihan presiden, maka diharapkan pemerintah tetap menjalankan posisinya sesuai dengan kondisi masyarakat, bukan atas dasar kepentingan politik semata.
Sampai di sini, logika dorongan besar (big push) Paul Rosenstein-Rodan tampaknya menjadi pelengkap dengan jalan yang dibuka Harrod. Ia merekomendasikan satu model pembangunan berimbang yang digerakkan oleh penanaman modal pada semua sektor sehingga terjadi perluasan pasar secara serentak dan menyeluruh. Logikanya, satu sektor yang memproduksi output tertentu dan bersifat pelengkap (komplementer) dengan output sektor lain akan bekerja saling mendorong dan menciptakan daya beli.
Dengan demikian, teori pertumbuhan berimbang (balanced growth) yang dipromosikan oleh Rosenstein-Rodan, Nurkse maupun Arthur Lewis menggariskan agar sektor modern tidak boleh terlalu jauh meninggalkan sektor tradisional. Jika semua kondisi yang diidealkan Nurkse terjadi, maka apa yang ia sebut sebagai vicious circle of poverty tidak akan menjadi masalah lagi dalam proses capital formation.
Kita bisa melihat relevansinya bagi Indonesia pada proyek Repelita. Dimana pembangunan Indonesia dibentuk menjadi sektor industrialisasi dan pro investasi besar-besaran. Tetapi sektor itu berpijak pada pertanian dimana sektor itu merupakan sektor unggulan Indonesia kala itu. Dan memang terjadi, ketika sektor pertanian itu tumbuh maka sektor lainnya akan menjadi terdukung. Seperti pariwisata,dll. Jika kita melihat pada tahun 2013 saat ini. Indonesia tetap berkembang pada sektor pertanian, namun sudah semakin luas. Dan relevansi yang di bangun oleh teori pertumbuhan berimbang dipromosikan oleh Rosenstein-Rodan, Nurkse maupun Arthur Lewis menggariskan agar sektor modern tidak boleh terlalu jauh meninggalkan sektor tradisional untuk beberapa kawasan di Indonesia sudah terjadi.
Namun belum semua wilayah di Indonesia sudah seimbang, hanya di kota-kota pusat di Indonesia yang biasanya sudah terjadi. Hal ini dikarenakan investor biasanya akan melihat potensi wilayah dulu sebelum mereka benar-benar menginvestasikan modal mereka. Dan memang benar, masih banyak kondisi di desa-desa terpencil yang belum sejahtera dan masih berkutat dengan “lingkaran kemiskinan”.
Dan hal yang terjadi di Indonesia saat ini, bisa kita relevansikan terhadap konsep teori dari Hirchman, dimana pembangunan pada dasarnya adalah rangkaian ketidakseimbangan (disequilibrium). Secara sederhana, pola pikir perkembangan tidak berimbang ini menolak keharusan investasi secara besar besaran untuk memompa setiap sektor ekonomi yang memiliki pola hubungan komplementer. Dengan membuat skala prioritas investasi yang tepat, perekonomian akan berputar terus dan proyek-proyek baru yang ia sebut sebagai induced investment akan berjalan memanfaatkan eksternalitas ekonomi maupun social overhead capital dari proyek sebelumnya. Bisa jadi, proyek yang telah di adakan di Indonesia dari investor dan ternyata berjalan baik akan terus didukung. Namun tidak bagi wilayah yang sekiranya tidak memiliki potensi ekonomi yang menguntungkan investor.
Seperti Hirchman, Rostow membuat sebuah idealisasi pembangunan yang bersifat self-propelling dan bertumpu pada dua sektor; tradisional dan modern. Dan sebagai seorang ahli sejarah ekonomi, konstruksi teoritik yang dibangunnya menunjukkan bagaimana Rostow berpikir sangat linear dan percaya bahwa semua negara akan berkembang dalam sebuah rentetan fase yang sama. Bagian paling penting teori Rostow yang membutuhkan penjelasan di hampir seluruh bagian bukunya –ditambah sejumlah paper karyanya sendiri-- adalah bahwa ia melihat perkembangan ekonomi berlangsung dalam lima tahap; tahap masyarakat tradisional, tahap prakondisi menuju lepas landas, tahap lepas landas, tahap dorongan menuju kematangan dan terakhir adalah tahap konsumsi massa tinggi.
Rostow mengklaim bahwa teorinya tentang lima tahap perkembangan masyarakat tersebut lebih dari sebuah teori ekonomi tetapi juga sebuah teori mengenai sejarah masyarakat modern secara keseluruhan. Klaim tersebut berangkat dari argumen Rostow sendiri mengenai ciri masyarakat pada masing-masing tahap yang meliputi beberapa indikator ekonomi dan sosial serta budaya. Dan yang terpenting adalah bahwa dia mengklaim diri telah menyusun sebuah kerangka besar pengganti marxisme seperti tercermin dari judul bukunya; “a noncommunist manifesto”, sebagai hal baru pengganti komunis yang ditulis Marx dan Engels.
Dan jika kita melihat relevansinya dengan Indonesia, bahwa pada saat ini Indonesia berada pada posisi dimana menuju lepas landas. Hal ini dikarenakan sistem ekonomi kita yang masih belum baik dan juga sistem politik yang masih rentan terhadap kasus korupsi, kolusi, dan nepotisme. Hal ini merupakan sebuah hambatan bagi ekonomi Indonesia untuk lebih baik.
Jujur saja, bagi penulis merasa sesungguhnya memang tidak banyak penjelasan yang masuk akal untuk meyakinkan bahwa masuknya ide-ide pembangunan Barat ke Indonesia sama sekali tak membawa masalah. Wiarda (1988) menuding bahwa infiltrasi ide-ide pembangunan ekonomi modern tersebut tak lebih dari strategi untuk menempatkan Dunia Ketiga ( termasuk Indonesia ) di dalam orbit Barat. Celakanya, di beberapa bagian Dunia Ketiga teori-teori tersebut justru digunakan untuk diturunkan menjadi formula-formula kebijakan pembangunan tanpa menimbang variabel-variabel spesifik yang ada di masing-masing negara Dunia Ketiga.
Karenanya, yang terjadi sesungguhnya bukanlah penyesuaian ide-ide pembangunan Barat dengan konteks sosial politik Dunia Ketiga melainkan pemaksaan masuknya wilayah-wilayah berkembang ke dalam bingkai dan parameter-parameter Barat. Satu doktrin yang disadari atau tidak dari paradigma pemikiran pembangunan Barat adalah bahwa masyarakat manapun bergerak dalam jalur dan pola-pola perubahan yang sama. Dan perubahan-perubahan itu tidaklah memerlukan banyak penyesuaian dan pada dasarnya perubahan itu tidak pernah menyakitkan.
Jika kita membuka mata sedikit tentang sistem ekonomi kita saat ini, pastilah kita bertanya kenapa kok ya di Indonesia rawan sekali dengan adanya korupsi. Kenapa kok ya sudah banyak orang yang membayar pajak, tetapi masih banyak orang mati kelaparan di pinggiran wilayah terpencil di Indonesia. Dan kenapa hutang kita ( Indonesia ) bukan semakin sedikit. Malah semakin banyak dan ada beberapa ekonom berpersepsi bahwa hutang Indonesia tidak akan terbayar mungkin untuk 100 tahun mendatang. Ini merupakan problema tersendiri bagi bangsa Indonesia tercinta kini.
Kita sudah dihadapkan terhadap banyak sekali teori ekonomi pembangunan modern dari barat, dan secara signifikan ada yang memberikan kontribusi. Namun satu hal yang kita kadang tidak sadari. Ketika kita mempraktekan teori yang berasal dari ekonomi pembangunan modern dari barat, maka kita sudah berada dalam sistem di dalam orbit Barat. Celakanya, di beberapa bagian Indonesia teori-teori tersebut justru digunakan untuk diturunkan menjadi formula-formula kebijakan pembangunan tanpa menimbang variabel-variabel spesifik yang ada di masing-masing wilayah Indonesia.
Akibatnya bisa kita rasakan saat ini, hutang luar negeri yang tidak kunjung hilang justru bertambah. Tingkat kesejahteraan yang belum merata di seluruh Indonesia. Tingkat investasi dan penanaman modal yang tidak seimbang yang mengakibatkan perbedaan perkembangan daerah di Indonesia. Hal-hal inilah yang kemudian menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah di Indonesia kedepannya. Untuk tetap mengambil kontribusi pemikir ekonomi pembangunan modern dan tetap mengambil sesuai dengan kondisi yang paling pas pada Indonesia. Agar relevansi bagi Indonesia dapat lebih baik dan tidak menjadi “bomerang” bagi Indonesia sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

·         Arsyad, Lincolin. 1990. Ekonomi Pembangunan. Edisi keempat. STIE. YPKN
·         Easterly, William. 2002. The Elusive Quest for Growth. Cambridge, Massahusetts, London, Engalnd : MIT Press.
·         www.google.com/Sejarah Indonesia/html. Diakses pada tanggal 26 Desember 2013 pukul 19.20.

2 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus