Senin, 22 Oktober 2018

Pertumbuhan Ekonomi Dunia Ketiga : Kemelesetan dan Kritik

BY Rochmat Aldy Purnomo IN No comments


Perlu diakui bahwa teori pembangunan ekonomi yang dipakai di Dunia Ketiga, sebagaimana terminologi Dunia Ketiga sendiri-- bukan produk asli wilayah geopolitik, melainkan lahir dari Barat. Sehingga, teori-teori pembangunan di Dunia Ketiga dapat dikatakan membawa watak dan asumsi-asumsi yang berlaku di Barat kemudian merasuki alam pemikiran intelektual Dunia Ketiga. Hal tersebut tidak mengherankan karena ide-ide pembangunan Barat ke Dunia Ketiga terjadi secara terus-menerus. Goldthorpe (1992) menyebutkan bahwa ide-ide tersebut dilakukan secara sistematis meskipun gagasan-gagasan pembangunan yang dibawa ke Dunia Ketiga kehilangan relevansinya ketika dipakai untuk menjelaskan situasi yang bersifat local specific

Hal yang sama diperlihatkan juga oleh Hettne (1985). Hanya saja, ia sedikit lebih maju dibanding Goldthorpe dengan paparannya mengenai dialektika ide-ide pembangunan eropa sentris yang kemudian menjadi lebih membumi di atas medium Dunia Ketiga. Sesungguhnya memang tidak banyak penjelasan yang masuk akal untuk meyakinkan bahwa masuknya ide-ide pembangunan Barat ke Dunia Ketiga sama sekali tak membawa masalah. Wiarda (1988) menuding bahwa ide-ide pembangunan tersebut tak lebih dari strategi untuk menempatkan Dunia Ketiga di dalam orbit Barat. Celakanya, di beberapa bagian Dunia Ketiga, teori-teori tersebut justru digunakan untuk diturunkan menjadi formula-formula kebijakan pembangunan tanpa menimbang variabel-variabel spesifik yang ada di masing-masing negara Dunia Ketiga.

Bisa dikatakan pemikiran pembangunan Barat sesungguhnya melakukan penyederhanaan berlebihan dengan mengasumsikan semua masyarakat adalah sama. Masyarakat dan manusia dalam paradigma pembangunan Barat tidaklah dianggap sebagai pribadi dan komunitas yang memiliki keunikannya masing-masing. Maka, tidak mengejutkan jika Rostow, misalnya, menganggap semua masyarakat akan beranjak dari struktur tradisional menuju masyarakat yang lebih modern, tanpa ada yang tertinggal.

Di sini terlihat betapa teori Rostow yang sangat dipengaruhi kosmologi Barat kesulitan membingkai fakta-fakta pembangunan ekonomi Dunia Ketiga. Wiarda (1988) menulis bahwa bias Eropa pada model-model pembangunan telah merusak pemahaman mengenai Dunia Ketiga, baik di lingkungan intelektual Dunia Ketiga maupun Barat. Wiarda juga menyebut –khususnya untuk teori linear seperti Rostow-- bahwa waktu, urutan dan fase-fase pembangunan yang ada di Barat mungkin tidak bisa direplikasi–bahkan di Barat sekalipun. Ia berpijak pada kenyataan bahwa masing-masing negara memiliki konteks yang berbeda-beda.


Karenanya, menganggap teori tahapan pembangunan Barat yang ‘memastikan’ kapitalisme sebagai pengganti feodalisme berlaku di Dunia Ketiga adalah tidak masuk akal. Realitas Dunia Ketiga justru menunjukkan feodalisme bisa berdampingan dengan kapitalisme sehingga menciptakan pola simbiotik antara keduanya dalam berbagai varian kapitalisme seperti kapitalisme populis, patrimonialis atau bahkan etatis.

Hal yang sama terjadi juga pada teori dorongan besar Rosenstein-Rodan. Rosenstein- Rodan menganggap bahwa gerak maju perekonomian sebuah negara yang terbelakang bisa dimulai dengan suntikan investasi ekstra besar secara serentak di semua sektor. Ide dorongan besar tersebut nyatanya hanya mendapat pembenaran dari kasus rekonstruksi negara-negara Eropa pasca Perang Dunia 2 melalui Marshall Plan atas prakarsa Amerika Serikat pada masa pemerintahan Harry Truman. Ketika itu, AS mengalirkan bantuan tak kurang dari US $13 ribu yang setara dengan 4-5 persen GDP AS kala itu (Gilpin, 1987), atau ekuivalen dengan US $ 80 ribu pada tiga puluh tahun kemudian, yang membuahkan ‘keajaiban’ ekonomi Eropa pada dekade 50 dan 60-an. Bukan cuma negara-negara penerima bantuan AS – setengahnya adalah hibah—yang bisa mendapat manfaat tetapi juga negara lain yang bukan recipient  (Gardner, 1997). Namun, untuk situasi Dunia Ketiga, skim yang merupakan replikasi Marshall Plan nyatanya tak membuahkan hasil yang semuanya memuaskan.


Tulisan ini terinspirasi dari :

Judul Buku : The Elusive Quest for Growth
Penulis : William Easterly
Penerbit : MIT Press



0 komentar:

Posting Komentar