Rabu, 20 November 2019

MODEL INPUT-OUTPUT UNTUK ANALISIS PEREKONOMIAN DAERAH

BY Rochmat Aldy Purnomo IN No comments



Input output merupakan teknik baru yang diperkenalkan oleh Profesor Wassily W. Leontief pada 1951. Teknik ini dipergunakan untuk menelaah hubungan antar industri dalam rangka memahami saling ketergantungan dan kompleksitas perekenomian serta kondisi untuk mempertahankan keseimbangan antara penawaran dan permintaan. Teknik ini juga dikenal sebagai “analisa industri”.
Menurut Profesor J.R. Hicks input adalah “sesuatu yang dibeli untuk perusahaan”, sedang output adalah “sesuatu yang dijual oleh perusahaan”. Input diperoleh tetapi output diproduksi. Jadi input merupakan pengeluaran perusahaan, dan ouput merupakan penerimaannya. Jumlah nilai uang dari input merupakan biaya total suatu perusahaan dan jumlah nilai uang dari output merupakan total penerimaan.
Sebagian besar kegiatan ekonomi memproduksi barang-barang antara (input) untuk digunakan lebih lanjut dalam pembuatan barang-barang akhir (output). Pada hakikatnya, analisa input-output mengandung arti bahwa dalam ekilibrium jumlah nilai uang antar industri dan jumlah nilai uang ouput antar industri.

1.     Struktur perekonomian tersusun dari berbagai sektor/industri yang satu sama lain berinteraksi melalui transaksi jual beli.
2.     Output suatu sektor akan didistribusikan dengan jalan dijual kepada sektor- sektor lainnya dan untuk memenuhi permintaan akhir, baik yang berasal dari rumah tangga(C), pemerintah (G),  investasi (I), maupun permintaan ekspor (X).
3.     Input suatu sektor didapatkan dengan cara membeli bahan baku dari sektor- sektor   lainnya,   dari   rumah   tangga   (dalam   bentuk   jasa   tenaga   kerja), pemerintah (misalkan saja dalam bentuk pembayaran pajak tidak langsung), penyusutan, surplus usaha serta impor (M).
4.     Hubungan antara input dengan output adalah linier.
5.     Analisis  model  dilakukan  pada  kurun  waktu  tertentu   (biasanya  setahun) dimana akan  selalu  didapat  identitas  bahwa total  input  sama dengan  total output.
6.     Suatu  sektor  dianggap  terdiri  dari  satu  atau  beberapa  perusahaan  dengan ketentuan utama bahwa output yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan tersebut diproduksi oleh satu tingkat teknologi yang sama.
Analisa input-output merupakan varian terbaik ekilibrium umum. Sebagai varian terbaik memiliki tiga unsur utama”:
1.  Analisa input-output memusatkan perhatiannya pada perekonomian dalam keadaan ekilibrium. Unsur ini tidak dijumpai didalam analisa ekuilibrium parsial.
2.     Ia tidak memutuskan dirinya pad analisa permintaan tetapi pada masalah teknik produksi.
3.     Analisa ini didasarkan pada penelitian empiris.

1.     Keseluruhan perekonomian dibagi kedalam dua sektor yaitu “sektor antar industri” dan “sektor permintaan akhir”, yang masing-masing dapat dibagi-dibagi ke dalam subsektor.
2.     Output total tiap sektor antar industri pada umumnya dapat dipergunakan sebagai input oleh sektor antar industri lain, oleh sektor intu sendiri dan oleh permintaan akhir.
3.     Masing-masing industri hanya memproduksi datu produksi homogen.
4.     Harga permintaan konsumen dan persediaan faktor adalah tertentu (given).
5.     Perbandingan antar hasil dan skala bersifat konstan.
6.     Didalam produksi tidak terdapat ekonomi dan disekonomi eksternal.
7.     Kombinasi input diterapkan dalam proporsi yang ditetapkan secara ketat. Proporsi input terhadap output senantiasa konstan.
Dengan kata lain tidak ada substitusi diantara berbagai bahan dan tidak ada kemajuan teknologi. Koefisien input produksi juga tetap. Analisa input-output terdiri dari dua bagian yaitu penyusunan input-output dan penggunaan model input-output.
Struktur Analisis Input-Output
Tujuan  utama  dari  analisis  Input-Output  adalah  menghasilkan  gambaran aliran antar industri-industri untuk menghasilkan keluaran (produk) bagi suatu sektor tertentu atau  menjelaskan besaran aliran antar industri dalam hubungannya dengan tingkat produksi dalam setiap sektor. Analisis dilakukan dalam suatu periode waktu tertentu, biasanya dalam tahunan. Analisis yang diperoleh adalah gambaran statis selama periode waktu analisis.
Adapun 3 macam klasifikasi hubungan Input-Output yaitu :
1.     Hubungan Langsung, adalah pengaruh yang secara langsung dirasakan oleh sektor yang menggunakan input dari output  sektor yang bersangkutan.
Misalnya, kalau industri konveksi menaikkan produksinya menjadi dua kali lipat maka permintaan akan benang, tekstil, dan kancing juga akan naik lebih kurang dua kali lipat. Kenaikan  industri tekstil pasti akan berpengaruh terhadap industri lainnya, seperti pengangkutan.
2.     Hubungan tidak langsung, adalah pengaruh terhadap industri yang outputnya tidak digunakan sebagai input bagi keluaran industri yang bersangkutan.
Misalnya, pengaruh industri konveksi terhadap industri jasa pengangkutan.
3.     Hubungan Sampingan, adalah pengaruh tidak langsung yang lebih panjang lagi jangkauannya daripada pengaruh  langsung tersebut di atas.
Misalnya, peningkatan reproduksi sektor industri tertentu akan meningkatkan pendapatanburuh industri, atau peningkatan jumlah buruh yang berarti pula   peningkatan sejumlah buruh tersebut. Dengan peningkatan pendapatan ini maka permintaan atau kebutuhan beras dapat naik.
Untuk mendapatkan model aliran input-output  dibutuhkan:
1.     Transaksi barang dan jasa yang terjadi antar produsen dan supplier pada periode waktu yang diamati.
2.     Kebutuhan langsung input yang diperlukan satu produsen untuk menghasilkan satu unit produk dari supplier langsungnya.
3.     Kebutuhan keseluruhan menunjukkan input yang diperlukan baik langsung maupun tidak langsung untuk menghasilkan produk.
            Tabel I-0 adalah suatu sistem informasi statistik yang disusun dalam bentuk matriks yang menggambarkan transaksi barang dan jasa antar sektor-sektor ekonomi. Aspek yang ingin ditonjolkan oleh tabel I-0 adalah bahwa setiap sektor mempunyai keterkaitan atau ketergantungan dengan sektor lain. Seberapa besar ketergantungan suatu sektor ditentukan oleh besarnya input yang digunakan dalam proses produksinya. (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah  Kabupaten Kutai Kartanegara, 2007).
Untuk memberikan gambaran Tabel Input-Output, berikut diberikan suatu ilustrasi tabel dengan menyederhanakan suatu sistem ekonomi menjadi tiga sektor produksi. Pada garis horizontal atau baris, isian-isian angka memperlihatkan bagaimana output suatu sektor dialokasikan, sebagian untuk memenuhi permintaan antara (intermediate demand) dan sebagian lagi dipakai untuk memenuhi permintaan akhir (final demand). (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah  Kabupaten Kutai Kartanegara, 2007).

Tabel 1. Ilustrasi Tabel Input-Output

Keterangan :
v Permintaan antara : Permintaan antara adalah permintaan terhadap barang dan jasa yang digunakan untuk proses lebih lanjut pada sektor produksi.
v Permintan akhir : Permintaan untuk konsumsi akhir yang terdiri dari konsumsi rumah tangga, pemerintah, pembentukan modal dan ekspor. Isian angka menurut garis vertikal atau kolom, menunjukkan pemakaian input antara
v Input primer dalam istilah yang lebih populer disebut nilai tambah.

Setiap angka dalam sistem matriks tersebut mempunyai pengertian ganda. Misalnya di kuadran pertama yaitu transaksi antara (permintaan antara dan input antara), tiap angka dilihat secara horizontal merupakan alokasi output suatu sektor kepada sektor lainnya, dan pada waktu yang bersamaan dilihat secara vertikal merupakan input dari suatu sektor yang diperoleh dari sektor lainnya.

 Manfaat Tabel Input Output
Berdasarkan Bappeda Kabupaten Kutai Kartanegara (2007), tabel I-O sangat bermanfaat bagi para perencana pembangunan maupun kalangan dunia usaha, diantaranya adalah sebagai berikut.
a.   Menyediakan informasi yang lengkap dan menyeluruh tentang struktur penggunaan barang dan jasa di masing-masing sektor serta pola distribusi produksi yang dihasilkan.
b.   Sebagai dasar perencanaan dan analisis makro terutama yang berkaitan dengan produksi, konsumsi, pembentukan modal, ekspor dan impor.
c.   Sebagai kerangka atau model untuk studi-studi kuantitatif, seperti analisis dampak permintaan akhir (konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, pembentukan modal dan ekspor) terhadap penciptaan output dan nilai tambah sektoral, tenaga kerja serta ketubuhan impor; proyeksi ekonomi; serta studi-studi yang bersifat khusus lainnya.
d.   Proses penyusunan Tabel I-0 sekaligus juga dipakai untuk tujuan pengecekan dan evaluasi terhadap konsistensi data sektoral antar berbagai sumber, sehingga berguna untuk perbaikan dan penyempurnaan data dasar dalam penyusunan pendapatan regional.

Langkah-Langkah Analisis Input Output
Analisis  Input output  mencakup  beberapa    perhitungan  dalam  menganalisis  suatu  sektor yaitu:
a.   Matriks Pengganda
Dampak  Pengganda  adalah  suatu  dampak  yang  terjadi  baik  secara langsung  maupun tidak langsung terhadap berbagai  kegiatan ekonomi dalam negeri sebagai  akibat adanya perubahan pada variabel-variabel eksogen perekonomian nasional. Untuk  menghitung  matriks  pengganda  dilakukan  melalui  beberapa  tahap  sebagai berikut.
b.   Menghitung matriks koefisien input (matriks A)
Unsur matriks A dapat dihitung dengan rumus:

 
Keterangan :
aij = koefisien Input sektor ke i oleh sektor ke j
Xij = penggunaan input sektor ke i oleh sektor ke j
Xj = output sektor ke j.
c.   Menghitung Matriks (I-A)
Mengurangkan  suatu  matriks  identitas  (yaitu  matriks  dengan  diagonal  utama bernilai 1 dan unsur-unsur lainnya bernilai 0) terhadap matriks koefisien input.
d.   Menghitung matriks pengganda (B) dan total.
Matriks  pengganda  (B)  dihitung  dengan  cara  menginverskan  matriks  yang diperoleh pada tahap 2 diatas (B = (I-A)-1).

LANGKAH-LANGKAH ANALISIS INPUT-OUTPUT


Analisis  Input-output mencakup beberapa perhitungan dalam menganalisis suatu sektor yaitu:
1.     Matriks Pengganda.
Dampak Pengganda adalah suatu dampak yang terjadi baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap berbagai kegiatan ekonomi dalam negeri sebagai akibat adanya perubahan pada variabel-variabel eksogen perekonomian nasional.
Untuk menghitung matriks pengganda dilakukan melalui beberapa tahap sebagai berikut:
A.   Menghitung matriks koefisien input (matriks A) Unsur matriks A dapat dihitung dengan rumus:
Dimana:
aij = koefisien Input sektor ke i oleh sektor ke j
Xij = penggunaan input sektor ke i oleh sektor ke j
Xj = output sektor ke j

B.    Menghitung Matriks(I-A)
Mengurangkan suatu matriks identitas (yaitu matriks dengan diagonal utama bernilai 1 dan unsur-unsur lainnya bernilai 0) terhadap matriks koefisien input.

C.    Menghitung matriks pengganda (B) dan total.
Matriks pengganda (B) dihitung dengan cara menginverskan matriks yang diperoleh pada tahap 2 diatas (B = (I-A)-1 ).
2.     Indeks Daya Penyebaran dan Indeks Derajat Kepekaan
-       Hubungan antara output dan permintaan akhir dapat dijabarkan sebagai X = (I- A)-1 F, dimana X adalah vektor kolom dari output, F adalah vektor kolom dari permintaan akhir.
-       Dari persamaan tersebut dapat dilihat bahwa dampak akibat perubahan permintaan akhir suatu sektor terhadap output seluruh sektor ekonomi (rj) dapat dirumuskan sebagai:
rj = b1j + b2j … + bnj = Σibij.
-       Jumlah dampak tersebut juga disebut sebagai jumlah daya penyebaran. Daya penyebaran   merupakan   ukuran   untuk   melihat   keterkaitan   kebelakang (backward linkage) sektor-sektor ekonomi di suatu wilayah. Selanjutnya, dengan membagi jumlah dampak tersebut (rj) dengan banyaknya sektor (n), dapat dihitung rata-rata dampak yang ditimbulkan terhadap output masing- masing sektor akibat perubahan permintaan akhir.
-       Namun demikian, karena sifat permintaan akhir masing-masing sektor saling berbeda, maka baik jumlah maupun rata-rata dampak tersebut kurang tepat untuk dijadikan sebagai ukuran pembanding dampak pada setiap sektor. Oleh karenanya, ukuran tersebut perlu dinormalkan (normalized) dengan cara membagi  rata-rata  dampak  suatu  sektor  dengan  rata-rata  dampak  seluruh sektor. Ukuran yang dinormalkan ini dinamakan dengan indeks daya penyebaran j) atau tingkat dampak keterkaitan kebelakang (backward linkages effect ratio), yang dapat dirumuskan:
Dimana:
αj   =  1  daya  penyebaran  sektor  j  sama  dengan  rata-rata  daya  penyebaran seluruh sektor ekonomi.
αj> 1 daya penyebaran sektor j diatas rata-rata daya penyebaran seluruh sektor ekonomi.
αj< 1 daya penyebaran sektor j dibawah rata-rata daya penyebaran seluruh sektor ekonomi.
-       Dari persamaan tadi juga dapat dilihat jumlah dampak output suatu sektor i sebagai akibat perubahan permintaan akhir seluruh sektor, yang dapat dirumuskan sebagai: sj=Σjbij
-       Nilai sj  disebut dengan jumlah derajat kepekaan, merupakan ukuran untuk melihat keterkaitan kedepan (forward linkage) sektor-sektor ekonomi di suatu wilayah.
-       Dengan  pola  pikir  yang  sama  seperti  ketika  menghitung  indeks  daya penyebaran, kita juga bisa menghitung indeks derajat kepekaan (βi) dengan rumus sebagai berikut:
Dimana :
βi   =  1  derajat  kepekaan  sektor  j  sama  dengan  rata-rata  derajat  kepekaan seluruh sektor ekonomi.
βi> 1 derajat kepekaan sektor j diatas rata-rata derajat kepekaan seluruh sektor ekonomi.
βi< 1 derajat kepekaan sektor j dibawah rata-rata derajat kepekaan seluruh sektor ekonomi.

3.     Analisis Dampak
A.   Dampak permintaan akhir terhadap output.
Rumus dampak permintaan akhir terhadap output: X = (I-A)-1 F
Artinya:   mengalikan matriks pengganda dengan matriks permintaan akhir. Sesuai dengan penempatan data.(lihat pada contoh kasus).

B.    Dampak permintaan akhir terhadap nilai tambah bruto (NTB).
Untuk menghitung dampak permintaan akhir terhadap NTB, terlebih dahulu dibentuk matriks diagonal koefisien NTB. Koefisien NTB dicari dengan cara membagi nilai tambah bruto (input primer) dengan total input.(lihat pada contoh kasus).
Tahap penghitungan dampak permintaan akhir terhadap NTB :
-       Membentuk matriks diagonal koefisien NTB dengan cara membagi nilai tambah bruto (input primer) dengan total input.
-       Mengalikan matriks diagonal koefisien  NTB  dengan  matriks dampak permintaan akhir terhadap output yang telah dihitung sebelumnya.
C.    Dampak permintaan Akhir Terhadap kebutuhan Impor.
Untuk menghitung dampak permintaan akhir terhadap kebutuhan impor, diperlukan informasi mengenai komponen impor pada masing-masing sektor, baik  untuk  permintaan  antara  maupun  permintaan  akhir.


     Tabel input-output mengacu pada perekonomian secara keseluruhan dalam tahun tertentu. Ia menunjukkan nilai arus barang dan jasa diantara berbagai sektor produksi terutama antar industri.
Untuk mudahnya, kita ambil perekonomian dengan tiga sektor: sektor antar industri, sektor pertanian dan industri, dan satu sektor permintaan akhir.
Tabel 1. Tabel Input-Output
(Dalam Arti Nilai)(Rupiah)
Sektor Pembelian
Sektor
Input ke Pertanian (1)
Input ke Industri (2)
Permintaan Akhir (3)
Output Total atau Penerimaan Total
Pertanian
50
150
100
300
Industri
100
250
150
500
Nilai Tambah*
150
100
0
250
Output Total atau Biaya Total
300
500
250
1050

*Nilai tambah menunjuk pada pembayaran untuk faktor-faktor produksi

            Pada tabel ini, output total dari sektor industri, pertanian dan rumah tangga disusun berbaris (baca horisontal) dan telah dibagi menjadi sektor pertanian, industri dan permintaan akhir. Input sektor-sektor ini disusun dalam kolom-kolom. Jumlah total baris pertama menunjukkan bahwa ouput pertanian semuanya dinilai sebesar Rp 300.- per tahun. Dari total ini, Rp 100.- merupakan konsumsi akhir, yaitu konsumsi pemerintah dan rumah tangga, sebagaimana ditunjukkan dalam kolom ketiga baris pertama. Sisa output pertanian merupakan input, 50 untuk pertanian sendiri dan 150 input untuk industri. Begitu juga baris kedua menunjukkan pendistribusian output total sektor industri yang dinilai sebesar Rp 500.- per tahun. Kolom 1, 2 dan 3 memperlihatkan bahwa 100 unit barang-barang manufaktur merupakan input bagi pertanian, 250 bagi industri itu sendiri dan 150 untuk konsumsi akhir sektor rumah tangga.
            Selanjutnya kolom-kolomnya (baca vertikal), kolom pertama menggambarkan input atau struktur biaya dari indsutri pertanian. Output yang dinilai sebesar Rp 300.- diproduksi dengan menggunakan barang-barang pertanian seharga Rp 50.- barang manufaktur sebesar Rp 100.- dan jasa buruh atau manajemen seharag Rp 150.-. Dengan kata lain, untuk mendapatkan penerimaan sebesar Rp 300.- dari sektor pertanian diperlukan biaya sebesar Rp 300.-. Begitu juga, kolom kedua menjelaskan struktur input dari sekotr industri (yaitu 150+250+100=500). Jadi “satu kolom memberikan satu angka/titik pada fungsi produksi masing-masing industri”. Kolom “permintaan akhir” menunjukkan apa yang tersedia untuk konsumsi dan pengeluaran pemerintah. Baris ketiga pada masing-masing kolom terlihat angka nol. Ini berarti bahwa sektor rumah tangga hanyalah merupakan sektor pengeluaran (konsumsi) yang tidak menjual apa-apa kepada dirinya. Dengan kata lain, tenaga buruh tidak secara langsung dikonsumsikan.
            Ada dua jenis hubungan yang menandakan dan menentukan cara suatu perekonomian bertingkah laku dan mengandung pola arus sumber tertentu. Keduanya ialah: (a) stabilitas atau keseimbangan internal masing-masing sektor perekonomian, dan (b) stabilitas eksternal masing-masing sektor atau hubungan antar sektoral, Profesor Leontief menyebut keduanya sebagai “hubungan fundamental antar keseimbangan dan struktur”. Jika dinyatakan secara matematik keduanya dikenal sebagai “persamaan keseimbangan” dan “persamaan struktural”.
            Jika misalnya output total XI dari industri ke-1 dibagi kedalam berbagai jumlah industri 1, 2, 3, n, maka kita mendapatkan persamaan keseimbangan.
            Xi = Xi1 + Xi2 + Xi3 + ... Xin + Di
            dan jika misalnya jumlah Yi yang diserap oleh “sektor luar” juga dipertimbangkan, maka persamaan keseimbangan dari industri i tersebut menjadi:
            Xi = Xi1 + Xi2 + Xi3 + ... Xin + Di + Yi
atau      Xij +  Yi = Xi
Harus dicatat disini bahwa Yi berarti jumlah arus produk dari industri ke-i, ke konsumsi, investasi dan ekspor, impr metto, dan sebagainya. Ini juga disebut “tagihan akhir barang” yang merupakan fungsi output yang harus dipenuhi. Persamaan keseimbangan itu menunujukkan kondisi ekilibrium antara permintaan dan penawaran. Ia memperlihatkan arus output dan input ke dan dari satu industri lainnya dan sebaliknya.
Suatu kajian PBB menyebutkan beberapa penggunaan model input-output di dalam perencanaan pembangunan sebagai berikut:
1.     Model-model ini membberikan kepda masing-masing bidang perekonomian perkiraan tentang produksi dan tingkat impor yang sesuai satu sama lain dan sesuai dengan perkiraan permintaan akhir.
2.     Solusi model ini membantu di dalam pengalokasian investasi yang diperlukan untuk mencapai tingkat produksi di dalam program dan model ini memberikan pengetesan yang lebih tajam mengenai cukup tidaknya sumber investasi yang tersedia.
3.     Kebutuhan akan buruh terdidik juga dapat dievaluasi dengan cara yang sama.
4.     Dengan adnaya pengetahuan tentang penggunaan bahan baku impor dan eks dalam negeri dalam berbagai bidang perekonomian, analisa tentang kebutuhan impor dan kemungkinan substitusi menjadi lebih mudah.
5.     Sebagai tambahan terhadap kebutuhan langsung akan modal, buruh dan impor, kebutuhan tidak langsung pda sektor-sektor lain perekonomian juga dapat diperkirakan.
6.     Model input-output secara regional juga dapat dibuat untuk tujuan perencanaan, untuk menjajagi implikasi program pembangunan wilayah tertentu, ataupun untuk perekonomian secara keseluruhan.


Bilas, Richard A, Teori Ekonomi Edisi Kedua
Chiang, Alpha C, Dasar-Dasar  Matematika Ekonomi Jilid 1 Edisi Keempat
Chiang, Alpha C, Dasar-Dasar  Matematika Ekonomi Jilid 2 Edisi Ketiga
Jhingan, M.L, Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan, Jakarta, 2016
Panggabean, A.B, Dasar-Dasar  Matematika Ekonomi


0 komentar:

Posting Komentar