Rabu, 25 Februari 2015

Belajar dari Sisi Kebangkrutan Sebuah Perusahaan

BY Rochmat Aldy Purnomo IN , , No comments

Puluhan perusahaan di dunia bisa mengalami kebangkrutan. Hal yang mungkin terjadi dan dapat menimpa setiap perusahaan adalah kebangkrutan. Bahkan beberapa perusahaan besar dunia seperti WorldCom, Enron, Eastman Kodak Corporation, General Motors, dan Lehman Brothers mengalaminya. Di Indonesia sendiri kebangkrutan menghampiri perusahaan seperti Batavia Air, Mandala, serta beberapa perusahaan milik konglomerat Bakrie.
keruntuhan yang dialami perusahaan disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain terlilit utang, ekspansi yang berlebihan, penipuan yang dilakukan ceo, dan masih banyak lagi. di balik kebangkrutan yang melanda beberapa perusahaan, ada hikmah yang dapat anda ambil. anda bisa menerapkan...
pelajaran finansial berharga dalam mengatur keuangan pribadi anda. meskipun, volume serta jumlah keuangan perusahaan dan pribadi berbeda jauh, ada beberapa pelajaran finansial berharga yang bisa dipetik akibat bangkrutnya suatu perusahaan.

Pelajaran Pertama : Mengambil terlalu banyak pinjaman akan menuju kehancuran

Salah satu perusahaan maskapai besar di Indonesia, Batavia Air mengumumkan bahwa maskapai tersebut resmi ditutup. Di tahun 2003 kasus pailit menghampiri mereka. Penyebab bangkrutnya maskapai ini adalah tidak bisa membayar utang karena ‘force majeur’. Batavia Air memiliki utang yang hampir mencapai Rp 2,5 triliun. Salah satu penyebab utang yang besar tersebut disebabkan Batavia Air menyewa pesawat Airbus dari International Lease Finance Corporation (ILFC) untuk angkutan haji. Namun apa daya, mereka tidak mampu melakukan pembayaran. Ujung-ujungnya pesawat yang sudah disewa pun menganggur dan tidak dapat dioperasikan untuk menutup utang.
Melalui kasus di atas, Anda bisa memetik pelajaran finansial berharga. Jangan terlalu memaksakan diri untuk pengajuan pinjaman ke beberapa bank maupun lembaga keuangan apabila keuangan Anda belum mencukupi. Kebutuhan memang banyak seperti membeli rumah, mobil, asuransi dan lainnya. Namun, apa salahnya bersabar hingga memiliki dana yang cukup. Apabila Anda tidak berhati-hati dalam mengatur pinjaman maka Anda akan diserbu utang tiada henti. Akibatnya, perlahan-lahan kondisi finansial Anda akan ambruk dan siap-siaplah dikejar debt collector apabila tak lagi mampu membayar semua pinjaman.

Pelajaran Kedua : Memiliki dana likuiditas yang memadai

Siapa bilang bank besar dengan reputasi mumpuni tidak dapat bangkrut? Washington Mutual (WaMu) Bank menjadi satu kisah yang menunjukkan bagaimana sebuah bank besar runtuh begitu saja akibat keserakahan dan salah urus. Pada musim gugur 2008 WaMu harus ditutup. Setelah dijalankan selama 10 hari di bank pada akhir September 2008, dengan jumlah penarikan lebih sebesar $ 16 miliar USD. Hal ini disebabkan oleh arus deposito yang keluar hampir 9% dan membuat WaMu ketar-ketir karena memperpendek waktu mereka untuk menemukan modal baru, meningkatkan likuiditas atau menemukan mitra ekuitas.
Dalam hal ini, pelajaran finansial berharga yang diambil ialah dalam kondisi apa pun Anda harus memiliki dana likuiditas yang memadai. Dengan begitu segala kebutuhan darurat untuk memenuhi biaya tak terduga seperti kehilangan pekerjaan, biaya medis dan lainnya bisa teratasi. Hindari meletakkan semua uang Anda dalam investasi. Paling tidak sisihkan sepertiga penghasilan Anda untuk disimpan dalam rekening tabungan yang mudah dicairkan kapan saja.

Pelajaran Ketiga : Tak ada jalan pintas menuju kekayaan

Hakikatnya untuk meraih kesuksesan dan kekayaan diperlukan perjuangan. Penipuan yang dilakukan CEO WorldCom, Bernard Ebbes menyebabkan kebangkrutan pada perusahaan telekomunikasi yang dipimpinnya. Sehingga aset perusahaan senilai US$ 103,9 miliar raib. Hal ini diakibatkan mantan CEO WorldCom Bernard Ebbers terbukti melakukan penipuan dan harus mendekam di penjara federal selama 25 tahun. Nyatanya, kasus kebangkrutan karena penipuan oleh CEO dialami juga oleh Bank Investasi Lehman. Laporan kepailitan mengungkap berbagai klaim skandal para pejabat Lehman dan auditornya Ernst & Young telah melakukan penipuan.
Bisa dipetik pelajaran finansial berharga bahwa bagaimanapun untuk menjadi kaya harus ada usaha dan kerja keras. Menipu dan bermain ‘kotor’ seperti yang dilakukan para CEO di atas demi meraup harta miliaran rupiah adalah cara yang salah. Lupakan bermain curang, pemalsuan resume hingga penggelapan uang ketika anda terdesak dalam masalah keuangan. Selalu buat reputasi personal yang baik di dalam perusahaan maupun lingkungan sosial.

Pelajaran Keempat : Beradaptasi demi kompetisi

Kodak, perusahaan yang menjadi pelopor kamera di Amerika Serikat, jatuh bangkrut. Perusahaan legendaris ini mengajukan perlindungan pailit sebagai akibat tidak mampu mengikuti era digital. Akibatnya, Kodak harus gulung tikar karena pasar sudah berpaling kepada perusahaan-perusahaan lain yang memproduksi kamera digital. Di Indonesia, Maskapai Bouraq menemui kegagalan akibat terlalu fokus pada penerbangan rute Indonesia Timur. Semakin banyak penerbangan yang muncul, yang juga mengembangkan rute Indonesia Timur, lama kelamaan rute ini semakin padat. Dan Bouraq akhirnya tidak bisa berkembang.
Untuk bertahan dalam kondisi ekonomi yang sulit, Anda harus mampu untuk beradaptasi. Bukannya malah berdiam diri dan menyalahkan keadaan. Mulailah untuk melek investasi dan membuka mata pada iklim ekonomi. Dengan mengembangkan sayap pada investasi serta memiliki aset berharga untuk masa depan, Anda tidak akan tergerus pada kebangkrutan.

Pelajaran Kelima : Investasi bukan untuk coba-coba

Dengan model bisnis yang kompleks, Enron telah berhasil menipu para pemegang saham melalui dana pensiun dan investor institusi lainnya selama bertahun-tahun. Perusahaan energi ini menghapus nilai pasar sahamnya senilai US$ 78 miliar dan menyebabkan mantan presiden Enron, Jeff Skilling dihukum 24 tahun penjara. Keuangan yang tidak transparan dan menyebabkan para investor harus kehilangan sejumlah uangnya menjelaskan sebuah pelajaran finansial berharga.
Kutipan dari Warren Buffet, “Jangan pernah berinvestasi dalam bisnis yang tidak Anda mengerti” seratus persen benar. Untuk apa Anda repot-repot berinvestasi jika instrumen yang diambil sulit dimengerti. Padahal ada pilihan beragam instrumen investasi yang lebih aman dan mudah untuk dijalankan. Misalnya, reksadana, saham, emas dan sebagainya. Penting diketahui sebelum mengambil keputusan tersebut Anda harus paham dulu risiko dan cara kerja investasi yang diambil.
Kebangkrutan yang dialami oleh perusahaan menimbulkan beberapa pelajaran finansial berharga. Pelajaran ini berlaku bagi sebagian besar individu. Baik untuk investor muda maupun yang sudah berpengalaman dalam menangani profesional pasar.

Referensi :
www.aturduit.com

0 komentar:

Posting Komentar