Kamis, 05 Februari 2015

Mengajar Musik? Siapa takut.

BY Rochmat Aldy Purnomo IN , No comments


“Mengajarkan musik kepada anak sebaiknya dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Bermain Sambil Belajar Musik adalah metode paling efektif
(Dian HP/musisi, pemerhati musik untuk anak dan pendiri Taman Musik Dian Indonesia).

Banyaknya jumlah sekolah atau tempat kursus musik di Indonesia akhir-akhir ini sungguh menggembirakan. Kesadaran bahwa musik memiliki banyak manfaat bagi kehidupan membuat para orang tua tak segan untuk mendorong putra putri mereka belajar musik. Sayangnya banyak orang tua belum menyadari bahwa belajar musik harus bertahap...


Sering kali tanpa memberi pilihan, orang tua langsung memasukkan anaknya ke kelas piano, gitar atau vokal. Si anak yang sebenarnya ingin masuk ke kelas drum jadi malas berlatih dan selalu beralasan untuk membolos. Pada akhirnya belajar musik menjadi kegiatan yang menyebalkan, membuang waktu dan uang. Sia-sia. Jika seperti ini tujuan orang tua tidak akan tercapai dan potensi musikal anak mustahil terasah. Keadaan ini perlu diubah.

Bagaimana sebaiknya mengajarkan musik pada anak? Jawabannya: melalui proses bertahap. Belajar musik secara bertahap sama halnya dengan mengikuti jenjang pendidikan formal (sekolah), dimulai dari taman bermain kemudian ke tingkat (jenjang) selanjutnya.

Dalam mengajarkan musik, hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengenalkan musik. Biasanya setelah melalui tahap pengenalan, anak-anak tidak perlu dipaksa untuk belajar musik.

Pengenalan musik 

Mengenal musik adalah tahap awal yang wajib dilakukan sebelum anak belajar memainkan instrumen musik atau belajar menyanyi. Sangat penting karena tujuannya adalah mengajak anak mencintai musik dan mengasah kepekaan musikalnya.

Mencintai musik 

Mengapa harus mencintai musik? Tak kenal maka tak sayang. Jika mencintai (musik) kita akan lebih terbuka untuk menerima dan mempelajari lebih jauh segala hal yang berkaitan dengan musik. Selain itu seseorang yang mengenal musik dan kemudian memainkan musik akan menyadari bahwa musik sangat bermanfaat bagi kehidupan mereka.

Mengasah Kepekaan Musikal 

Usia 2 tahun adalah usia yang tepat, karena pada usia ini syaraf otak untuk belajar musik telah matang. Musik yang terdiri dari 5 unsur utama – nada, ritme, notasi, melodi dan harmoni – dapat mengasah kepekaan musikal anak melalui kegiatan bermain. Karena itu bermain sambil belajar musik adalah metode paling efektif untuk mengenalkan dan mengajarkan musik kepada anak. Orangtua dan guru musik bisa menciptakan permainan yang mengandung nyanyian dan tarian (gerakan). Memainkan dan mengeksplorasi bunyi dengan alat perkusi sederhana – seperti tambourine, castanet, maracas, jimbe, triangle - juga bisa menjadi bagian dari kegiatan bermain sambil belajar yang sungguh menyenangkan.

Memperkenalkan musik sejak dini dan melatih kepekaan musikal tidak hanya bertujuan mencetak anak menjadi pemusik. Musik dapat membantu anak berekspresi lebih baik, melatih kepekaan mereka terhadap seni (khususnya musik) dan lingkungan, meningkatkan kecerdasan otak, daya pikir, kreatifitas, kesehatan dan percaya diri tampil di muka umum (di depan kelas mau pun di atas panggung).

Don Campbell seorang edukator, peneliti musik dan pendiri Institute of Music, Health and Education mengungkapkan dalam bukunya banyak studi telah menunjukkan bahwa :
  • Anak-anak kecil yang mendapatkan pelatihan musik secara teratur menunjukkan keterampilan motorik, kemampuan matematika, dan kemampuan membaca lebih baik daripada kawan-kawan mereka yang tidak berlatih musik.
  • Siswa sekolah menengah yang bernyanyi atau memainkan sebuah alat musik mempunyai nilai lebih tinggi pada ujian dibanding mereka yang tidak memiliki hobi itu.
  • Otak para pemusik dewasa umumnya menunjukkan uraian gelombang otak (EEG=Electro Encephalogram) yang lebih besar dibanding mereka yang bukan pemusik, bahkan mempunyai anatomi berbeda apabila berlatih musik sebelum usia 7 tahun.
Musik untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) 

“Setiap anak berhak belajar musik, termasuk Anak Berkebutuhan Khusus, seperti Anak dengan Down Syndrome, Slow Learner dan Autis” 

Anak Berkebutuhan Khusus sama seperti anak-anak pada umumnya, menunjukkan reaksi yang sama terhadap musik secara fisik, indera dan emosi. Melatih kepekaan musikal Anak Berkebutuhan Khusus, dapat membantu mereka menjadi lebih mandiri, memperbaiki kontrol motorik, meningkatkan kemampuan berbahasa dan berbicara, mengontrol emosi dan mempermudah mereka untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain. Musik adalah sarana terapi yang baik bagi Anak Berkebutuhan Khusus.
Penulis, Dian HP,  adalah Musisi, pemerhati musik anak dan pendiri Taman Musik Dian Indonesia

kecerdasan anak memang sudah terbukti. Tapi bagaimana cara yang tepat mengajarkan musik kepada balita?
  • Mainkan  berbagai jenis musik: klasik, jazz, pop, reaggae, musik etnis dan beragam musik lain.
  • Buat pojok musik berisi  berbagai alat musik buatan sendiri.
  • Nyanyikan lagu dengan siulan, minta anak menebak judul lagu yang Anda siulkan.
  • Ajak anak mengenali ritme dan ketukan dalam setiap kegiatan. Misalnya saat joging dengan Anda, atau ketukan bunyi orang memukul palu dan sebagainya.
  • Perkenalkan anak berbagai instrumen dan biarkan ia memainkan alat tersebut.
  • Ajak anak menonton konser musik. Meski tak bisa tahan lama mendengarkan konser, mendengar musik  live adalah stimulasi yang baik.
  • Masukkan anak dalam kursus musik. Tak perlu mengajarkan instrumen musik khusus bagi si 5 tahun. Cobalah mengikutsertakannya dalam kelompok mengenal musik secara sederhana. Berbagai metode belajar kursus musik kini  diterapkan. Salah satunya, metode Suzuki yang mengajar anak memainkan nada dari ingatannya pada permainan biola atau alat musik lain. Metode lain seperti Dalcroze, Kodaly dan Orff lebih fokus pada gerakan tubuh, latihan suara dan improvisasi dengan xylophone.
Selain belajar, anak juga bisa diarahkan agar bisa menciptakan musik. Tapi, tentu saja musik yang sangat sederhana ala balita. Caranya:
  • Ajak anak bereksperimen menghasilkan nada dan irama dengan alat dapur yang cukup aman: panci, wajan yang dibalik lalu pukul-pukul dengan kayu atau alat masak lain.
  • Isi botol-botol dengan kerikil atau biji-bijian. Goyang-goyang untuk menghasilkan musik perkusi yang unik. Bisa juga Anda perdengarkan sebuah lagu, dan iringi lagu tersebut dengan musik botol anak.
  • Gelas diisi air pun bisa menjadi media bermusik yang menyenangkan. Isi gelas-gelas dengan air setengahnya. Sentuh ujung bibir gelas dengan garpu atau sendok. Hasilnya, bunyi yang luar biasa menarik!  
Sementara seperti ini dulu yang bisa kami sampaikan, apabila menurut anda tulisan ini bermanfaat, jangan lupa sebarkan ilmu ini agar semakin banyak orang yang mengetahui tentang potensi dalam musik. Terima kasih.


0 komentar:

Posting Komentar